Kalingga, Jema, Khalil, dan Damar duduk pada sudut cafe dengan masing-masing ponsel pada genggaman mereka. Saling mengumpat satu sama lain agar mereka tidak kalah dalam permainan ini. Tak berselang lama, teriakan heboh dari mereka terdengar yang menandakan bahwa mereka menang lagi dalam game nya. Untung saja cafe sudah mulai sepi, jadi mereka tidak akan mengganggu pengunjung lain.

“Latte macchiato nya satu ya, kak." Suara yang tidak asing bagi Kalingga terdengar dari area kasir. Laki-laki itu menoleh dan mendapati perempuan berambut panjang yang sangat dikenalinya berdiri di sana.

“Siapa tuh, Kal?” tanya Khalil dengan suara mengejek dan wajah tengilnya itu.

“Kamila,” jawab Kalingga masih memperhatikan perempuan di depan sana yang tampak melamun dan tidak melakukan apapun.

“Malam-malam minum kopi emang nggak takut gabisa tidur apa, ya?” celetuk Jema sambil terkekeh.

“Justru dia beli kopi biar nggak tidur,” ucapan dari Damar membuat ketiga laki-laki itu menoleh.

“Kok lo tau?” Kalingga dengan cepat bertanya.

“Santai aja kali mukanya,” ejek Jema sambil tertawa.

“Follow ig Kamila makanya, biar nggak ketinggalan info,” ucap Damar sambil tertawa yang membuat wajah Kalingga berubah masam. Pasalnya, laki-laki itu pernah berniat memfollow instagram milik Kamila, tapi keburu sakit hati karena isinya kebanyakan dengan pacarnya dulu. Jadilah sampai sekarang Kalingga tidak pernah melihat sosmed milik perempuan itu lagi.

“Follow aja, sih, Kal. Lagian sekarang nggak ada cowoknya,” ucap Khalil.

“Males, ntar aja kapan-kapan,” ucap Kalingga lalu berdiri dari duduknya.

“Totalnya 50 ribu, Kak.” Kasir itu menyerahkan sekantong plastik yang berisi dua minuman pada Kamila.

Kamila merogoh saku hoodienya untuk mengambil ponsel, namun sialnya benda tersebut tidak ada disana.

“Hah? Ponsel gue ketinggalan?” Kamila berucap dalam hatinya dengan wajah yang sudah berubah panik.

Kalingga ada di belakangnya, memperhatikan Kamila yang diam tidak berkutik sambil menenteng plastik berlogo Cafe Harmoni.

“Bayarnya sama punya dia juga, Thal.” Kalingga menyerahkan kartu kredit miliknya pada kasir bernama Thalita yang memang sudah akrab dengannya.

Meski sempat bingung, Thalita menerima kartu itu dan meminta Kalingga memasukkan pin-nya.


“Makasih—Kalingga?” Kamila berucap ragu pada laki-laki yang kini berdiri di sampingnya.

Mereka sedang berada di luar cafe yang pintunya sudah terkunci rapat. Teman-teman Kalingga sudah pulang duluan, sedangkan dirinya masih bersama Kamila yang tadi sempat berdebat kecil karena perempuan itu merasa merepotkan Kalingga dengan membayarkan pesanan miliknya.